Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel

Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel

Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel

Di tahun 2017 ini, ada berita yang paling menghebohkan, yaitu tertangkapnya designer sekaligus bos besar dari First Travel. Kasus yang menyerat mereka adalah pengelapan dana haji. Kasus yang bermula dari kecurigaan Menteri Agama di tanggal 28 Maret 2017. Kecurigaan yang dirasakan oleh Kemenag Lukman Hakim Saifuddin mengenai ketidak mampuan travel ini memberi penginapan di sekitar bandara Internasional Soekarno-Hatta akibatnya para jemaah tidak dapat berangkat umrah pada tanggal 28 Maret 2017.
(Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel)
Setelah melihat kejadian itu Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama melakukan mediasi dengan jemaah yang gagal berangkat ini. Mediasi pertama kalinya ini dilakukan pada tanggal 18 April 2017. Mediasi yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah ini mempertemukan para jemaah dan manajeman dari travel tersebut. Dalam mediasi ini jemaah pun mulai buka suara dengan mengatakan sudah 3 kali gagal berangkat umrah bukan hanya itu saja, jemaah pun menuturkan bahwa pihak manajemen dari First travel ini selalu berbelit-belit jika ditanyai tentang kepastian umrah ini. Setelah mendengar keluhan dari para calon jemaah, Kemenag pun menanyakan kejelasan dari pemilik travel ini, namun tidak ada satupun perwakilan dari first travel yang buka suara.
(Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel)
Tidak puas dengan mediasi pertama, akhirnya pemerintah melalui Menteri Agama membuat beberapa mediasi namun hal ini tidak di respon dengan baik oleh pihak manajemen dan bos travel itu sendiri. Setelah melihat itikat tidak baik yang dilakukan First Travel, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pun langsung turun tangan menyelidiki kasus ini. Dari hasil investigasi, pihak OJK meminta agar pihak dari First Travel ini tidak menjual kembali promo paket yang tidak jelas ini karena teridentivikasi melakukan penghimpunan dana masyarakat secara ilegal.
(Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel)
Setelah penyelidikan dari OJK pada tanggal 21 Juli 2017 Kemenag pun mengeluarkan surat pencabutan perizinan operasi perusahaan ini pada tanggal 3 Agustus 2017 dengan Kop surat B-3005/Dj/Dt.II.I/4/Hj.09/08/2017 yang berbunyi penjatuhan sanksi administrasif pencabutan izin penyelenggaraan PT. Frist Anugerah Karya Wisata sebagai penyelenggara perjalanan ibadah umrah. Selang 6 hari surat ini dikeluarkan Bareskrim Polri menetapkan bos dari travel ini sebagai tersangka. Mereka adalah Andika Surachman (suami) Anniesa Desvitasari Hasibuan (Istri) besreta adik Anniesa Desvitasari Hasibuan. Mereka dijerat dengan pasal penipuan dan melanggar UU ITE dengan ancaman hukuman 4 tahun.
(Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel)
Setelah menetapkan suami istri dan adik Anniesa Desvitasari Hasibuan sebagai tersangka, kepolisan pun terus mengembangkan kasus ini dengan memanggil beberapa saksi diantaranya Syahrini, Alm. Jupe dan Ria Iriawan yang menggunakan jasa travel ini untuk melakukan ibadah umrah. Syahrini sendiri dipanggil sebagai saksi untuk pertama kali pada tanggal 27 September 2017. Perlu diketahui Syahrini menggunakan travel ini untuk melakukan ibadah umrah bersama keluarganya pada Maret 2017. Setelah kurang puas mendapatkan jawaban dari Syahrini polisi kembali memanggil penyanyi yang sempat berduet dengan Anang Hermansyah ini pada tanggal 9 Oktober 2017. Dalam pemeriksaan kedua ini penyanyi kondang ini menggandeng Hotman Paris sebagai pengacaranya. Dalam kesempatan ini Syahrini pun menepis semua isu yang mengatakan dirinya sebagai Ikon dari First Travel ini.
(Babak Baru Dari Kasus Bos First Travel)
Setelah selesai memberikan keterangan kepada penyidik polisi, Syahrini keluar dari kantor Bareskrim. Dipintu utama, Syahrini telah ditunggu oleh para pewarta yang ingin menanyakan beberapa pertanyaan. Salah satunya mengenai tentang dirinya yang menjadi Ikon dari perusahaan ini. Saat disinggu pertanyaan ini kuasa hukumnya langsung buka suara dengan mengatakan ” Biasanya jika klien saya menjadi ikon itu diberikan 100 juta dan honur (upaya) dari ikon itu 1 M, namun klien saya tidak menerima uang sepeser pun dari perusahaan ini, klien saya ini mendapatkan fasilitas VVIP dengan harga reguler.” ungkap Hotman Paris yang mendampingi Syahrini di depan wartawan. Lebih lanjut Syahrini menambahkan fasilitas ini didapatkan dengan catatan harus mempositing ke akun media sosial saya, jadi bentuknya ini kerjasama dan umrah ini murni sebagai ibadah.